Pentingnya Kemandirian Finansial Bagi Wanita

finansial-independen
Share Button

Selama ini, wanita ‘diajarkan’ bahwa mereka tidak memiliki kewajiban mencari nafkah. Tentu saja mereka diperbolehkan untuk mencari penghasilan atau mengejar karier, namun sejak dini wanita sudah diberitahu bahwa mereka punya pilihan untuk tidak melakukannya. Wanita dapat menggantungkan diri kepada suami dan bapak dari anak-anaknya, karena peran wanita sebagai istri dan ibu menjadi yang utama.

Tidak ada yang salah dari hal itu. Bagi wanita berkeluarga, peran sebagai istri dan ibu memang harus diutamakan. Masih banyak wanita yang merasa bahwa uang adalah tanggung jawab suami, sementara, tanggung jawab dirinya adalah mengurus sang suami dan anak.

Sayangnya, tidak semua wanita menyadari bahwa ada hal-hal tak terelakkan atau hal-hal tak terduga yang bisa terjadi. Banyak wanita yang tidak menyadari bahwa suami memiliki banyak risiko. Bisa jadi suatu saat suami di-PHK, sakit berkepanjangan, bahkan selingkuh, cerai hingga meninggal dunia.

Jika hal itu terjadi dan sang istri tidak memiliki simpanan, bagaimana dia bisa menghidupi dirinya dan, terutama, anak-anaknya? Banyak wanita di luar sana yang bertahan dalam rumah tangga yang tidak lagi sehat karena dia bergantung pada sang suami secara finansial.

Wanita Indonesia Belum Mandiri Secara Finansial

Menurut hasil survey Citibank Indonesia dalam Citi Fin-Q 2009, separuh wanita Indonesia ternyata tidak mempunyai rencana keuangan. Sebagian yang sudah memiliki rencana belum tentu melaksanakan rencana tersebut.

Beberapa alasan utama wanita Indonesia belum mandiri secara financial adalah sebagai berikut:

1. Ajaran konvensional tentang peran rumah tangga

Seperti telah disebutkan di atas, wanita Indonesia diajarkan bahwa mereka tidak memiliki kewajiban mendapatkan penghasilan sehingga mereka bergantung pada pasangannya. Ketergantungan finansial inilah yang membuat wanita kerap tidak siap jika suami mengalami kejadian seperti di-PHK, kecelakaan atau meninggal dunia. Wanita yang ditinggalkan harus membesarkan anak seorang diri.

2. Menganggap remeh menabung

Ketika masih muda dan belum memiliki tanggungan apapun, menabung biasanya tidak masuk dalam prioritas wanita. Wanita Indonesia lebih suka menghabiskan penghasilan mereka untuk mendapatkan hal-hal yang tidak bisa mereka miliki ketika kecil. Hal ini dapat menyebabkan wanita memiliki kebiasaan konsumtif sehingga semakin sulit untuk menabung.

3. Terintimidasi sukses

Saat ini, bukan hal aneh jika wanita memiliki penghasilan lebih tinggi dari pasangan. Sayangnya, sebagian dari mereka justru menyesali hal tersebut karena penghasilan mereka berpotensi menimbulkan pertengkaran dengan suami. Akhirnya, mereka pun merelakan hak finansialnya demi menjaga keutuhan rumah tangga.

4. Ingin membantu orang lain

Tentu saja tidak ada salahnya membantu orang lain yang sedang kesulitan dalam hal finansial. Namun, terkadang wanita melupakan kebutuhan dirinya sendiri sehingga mereka justru kesulitan mengatur anggaran rumah tangga karena sebagian sudah digunakan untuk teman atau kolega.

Pentingnya Wanita Mandiri Secara Finansial

Mandiri secara finansial berarti seorang individu dapat mengelola keuangannya sendiri. Jika individu tersebut memiliki anak, maka dia harus bisa mengelola keuangan untuk seluruh anggota keluarga, dengan atau tanpa pasangan.

Mengapa wanita harus mandiri secara finansial? Berikut beberapa keuntungan mandiri secara finansial bagi wanita:

1. Wanita yang mandiri secara finansial dapat menjadi ‘rencana B’ bagi keluarga.

Seorang istri yang memiliki penghasilan pribadi dapat mendukung rumah tangganya ketika suami kehilangan pekerjaan atau mengalami hal lainnya yang mengakibatkan kehilangan penghasilan.

2. Wanita yang mandiri secara finansial dapat memberikan kontribusi finansial

Ketika harga barang dan biaya pendidikan melambung tinggi, wanita yang memiliki penghasilan pribadi dapat menyokong keuangan keluarga sehingga kebutuhan anak tetap tercukupi.

3. Wanita yang mandiri secara finansial dapat memberi motivasi bagi anak-anak mereka untuk bersikap mandiri

Wanita dengan penghasilan pribadi bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka. Apalagi jika Anda adalah pekerja keras dan memiliki etos kerja yang baik, hal itu akan tertanam dalam benak anak Anda sehingga mereka ingin mengikuti apa yang Anda lakukan.

4. Wanita yang mandiri secara finansial dapat mewujudkan ‘mimpi’ mereka

Terkadang kita hanya bisa bermimpi tanpa mewujudkannya karena terbentur masalah ekonomi. Entah itu membawa anak-anak liburan, menyekolahkan anak di sekolah yang baik, atau sekedar menyenangkan diri sendiri dengan melakukan perawatan pribadi di spa.

Bukan Hanya Mandiri, Wanita Harus Memiliki Rencana Keuangan

Jika wanita sudah menyadari risiko-risiko yang dapat dialami sang suami, maka penting bagi dirinya untuk bisa berdiri sendiri dalam hal keuangan.

Apakah artinya semua wanita harus bekerja kantoran?

Tidak. Wanita bisa menjadi mandiri secara finansial tanpa bekerja konvensional sebagai karyawan. Jika Anda adalah ibu rumah tangga, maka belajarlah menjadi ibu rumah tangga yang kreatif dan mampu menghasilkan pendapatan sendiri. Misalnya dengan usaha katering kecil-kecilan jika Anda gemar memasak, atau bekerja sebagai penulis lepas jika Anda punya bakat menulis, dan sebagainya.

Bagaimana jika Anda benar-benar tidak memiliki waktu untuk membuka usaha atau bekerja lepas, meskipun pekerjaannya dapat dilakukan dari rumah?

Setidaknya, Anda harus bisa melakukan perencanaan keuangan secara matang demi mempersiapkan risiko-risiko tak terduga. Jangan sampai Anda mengalami musibah keuangan terlebih dulu baru ingin belajar tentang perencanaan keuangan. Tentunya, sebagai seorang ibu, Anda tidak ingin anak Anda merasakan pahitnya hidup ketika terjadi musibah keuangan bukan?

Saat ini, informasi tentang masalah keuangan bisa diakses dengan mudah di internet maupun buku. Anda bisa meluangkan beberapa menit dalam keseharian Anda untuk belajar tentang istilah finansial, dan yang paling penting, cara dasar mengelola uang.

Menurut perencana keuangan, Lisa Soemarto, wanita dapat mengatur keuangan dengan membuat anggaran, membayar utang konsumtif seperti kartu kredit, memiliki dana darurat, memiliki asuransi, mengerti produk-produk investasi dan berinvestasi secara rutin sesuai dengan target-target keuangan.

Jadi, meskipun tidak bekerja dan memiliki usaha sendiri, wanita dapat mandiri secara finansial dengan mengatur keuangan keluarga secara benar. Sebagai ‘menteri keuangan’ dalam rumah tangga, Anda sebaiknya menyisihkan uang yang diberikan suami setiap bulan dalam beberapa kategori, misalnya untuk dana pendidikan anak, dana darurat dan sebagainya. Anda juga bisa mengalokasikan dana tersebut ke sejumlah instrumen investasi sesuai preferensi.

Selain itu, Anda juga bisa berbicara dengan suami untuk membeli produk asuransi. Terlebih jika suami adalah pemberi nafkah tunggal dalam keluarga. Mungkin Anda dan suami merasa tidak memerlukan asuransi karena kantor suami menyediakan asuransi kesehatan yang sangat baik. Namun, Anda membutuhkan dana besar jika terjadi risiko terhadap suami yang mengakibatkan dirinya tidak lagi mampu menghasilkan pendapatan untuk keluarga.

Intinya, terlepas dari apapun status seorang wanita, mereka harus bisa mandiri secara finansial dan mengerti cara mengelola keuangan. Terlebih jika Anda adalah seorang ibu, Anda memiliki kewajiban terhadap anak Anda untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. Tentunya, hal itu lebih mudah dilakukan jika Anda memiliki persiapan matang dari jauh-jauh hari ketimbang melakukannya secara mendadak bukan?

 

Sumber:

http://female.kompas.com/read/xml/2010/04/20/14021814/5.Alasan.Wanita.Tidak.Mandiri.Secara.Finansial-3

http://ruchiurvashi.hubpages.com/hub/Why-is-it-important-for-women-to-be-financially-independent

Yahoo Indonesia

http://www.fikriarista.net/perempuan-indonesia-harus-mandiri-secara-financial/

http://female.kompas.com/read/xml/2010/04/20/14021814/5.Alasan.Wanita.Tidak.Mandiri.Secara.Finansial-3

http://www.koran-jakarta.com/?2928-women-and-money

 


admin

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someonePrint this page

Leave a Reply