Mengulik Jenis Permainan Sesuai Usia Anak

anak-bermain-1
Share Button

Jika sebelumnya Anda sudah memahami manfaat bermain untuk anak Anda, kini saatnya mencari tahu lebih jauh tentang dunia bermain anak-anak. Sebelum mengajak si kecil ke arena bermain atau membelikannya puluhan mainan baru, yuk cari tahu jenis permainan apa yang cocok untuk buah hati kesayangan sesuai usia mereka!

Kategori Bermain pada Anak

Bermain adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak. Lewat bermain, anak bisa belajar banyak tentang diri mereka sendiri maupun hal-hal yang ada di sekeliling mereka. Namun, jangan berpikiran bahwa semua anak melakukan permainan yang sama, bahkan ketika mereka berada di kelompok usia yang sama.

Ahli sosiologi Mildred Parten mengembangkan sistem untuk membagi tahapan permainan anak pada 1930 lalu:

1. Solitary (Menyendiri)

Pada tahap solitary, anak memang aktif dan sangat senang bermain, namun mereka lebih suka melakukannya seorang diri. Demikian penjelasan Dr. Paul Busceni, dekan Sekolah Pendidikan di Kendall College, Chicago. Saat berada di tahapan ini, anak belum tertarik dengan anak lain, meskipun mereka mungkin merasa ingin tahu dengan anak lain.

Umumnya, bayi dan batita ada pada tahap ini. Mereka belajar dengan mengoptimalkan indera mereka, mulai dari melihat, menyentuh, mendengar hingga merasakan. Karena itu, para orangtua harus memperhatikan bayi dan batita ketika bermain, karena mereka tidak memilih-milih apa yang ingin mereka rasakan. Mereka juga tertarik dengan sebab-akibat. Misalnya, ketika mereka menjatuhkan bola, bola akan jatuh ke bawah. Jadi, jangan heran kalau mereka melakukan sesuatu berkali-kali.

2. Spectator (Penonton)

Anak-anak yang mencapai tahap ini senang menyaksikan orang lain dan, terkadang, mungkin meniru tingkah laku mereka. Menurut Busceni, tujuan anak tidak selalu meniru perilaku anak lain, tapi bagi mereka belajar menjadi lebih mudah dengan menyaksikan anak lain.

3. Parallel (Bersama)

Pada tahap bermain parallel, anak mulai semakin menyadari keberadaan anak lain, namun mereka sekedar mengisi ruang bersama. Meskipun berada dekat satu sama lain, biasanya mereka akan melakukan hal-hal berbeda. Misalnya, satu anak mungkin memilih bermain dengan balok, sementara anak lain melihat-lihat buku. Di tahap ini, anak senang menjadi bagian dari kelompok, namun mereka belum berinteraksi secara maksimal. Ketika berbicara, mereka tidak melakukan percakapan. Misalnya, satu anak berkata, “Kemarin aku pergi ke kebun binatang”, sementara anak lain menyahut, “Aku akan ke taman bermain hari ini.”

Perilaku ini juga bisa ditunjukkan anak yang lebih tua. Contohnya, ketika mencari tahu cara mengoperasikan permainan baru, dia akan diam-diam menyaksikan anak lain yang mungkin lebih mahir melakukannya.

4. Associative (Berhubungan)

Anak-anak di tahap associative lebih banyak berinteraksi dengan anak lain, akan tetapi belum siap berpartisipasi dalam sebuah kelompok. Mereka mungkin memainkan permainan yang sama, tapi mereka tidak bekerja sama dalam melakukannya.

Di tahap ini, anak semakin nyaman bermain dan belajar dengan lebih banyak teman, walaupun mereka tidak terikat pada rutinitas tertentu ataupun berhubungan dengan teman-teman tertentu.

5. Cooperative (Bekerjasama)

Anak-anak di tahap kooperatif bemain dalam kelompok kecil maupun besar. Ini adalah bentuk kerjasama tertinggi dalam dunia anak-anak. Biasanya, anak pra-sekolah yang lebih tua ada di tahap ini. Anak semakin tertarik dengan teman-temannya, mengikuti pemipin dan memiliki lebih banyak kemampuan sosial. Ketika bermain dengan balok, mereka saling berkomunikasi dan bekerjasama membangun sesuatu.

Tahap ini akan berlanjut hingga anak masuk sekolah, namun dengan perilaku yang lebih formal. Ketika sudah memasuki usia sekolah, anak akan mengikuti peraturan dan petunjuk.

Tahap Bermain Anak Sesuai Usia

Setelah mengetahui kategori bermain menurut Mildred Parten, ada baiknya orangtua juga memahami lebih dalam tahapan bermain anak menurut kelompok usia mereka. Dengan memahami tahapan ini, orangtua diharapkan semakin mengerti apa yang terjadi pada otak dan tubuh si buah hati pada tiap tahapan sehingga orangtua dapat memberikan dukungan yang sesuai.

Bayi baru lahir (newborn) – 18 bulan

Hampir semua sel syaraf sudah ada pada bayi yang baru lahir, namun sebagian besar tidak terhubung satu sama lain. Proses terhubungnya sel syaraf berjalan sangat cepat pada tahun pertama kehidupan bayi, di mana aktivitas otak mereka mendekati aktivitas orang dewasa ketika mereka mencapai usia 12 bulan. Area terjadinya pertumbuhan tercepat adalah sensor motorik, visual dan, belakangan, lobe frontal, yaitu bagian otak besar yang terletak di depan atau dahi yang mengendalikan emosi dan pusat rumah bagi kepribadian manusia.

Bayi belajar mengenai dunia lewat indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa dan bau. Itu sebabnya mainan bayi yang bagus biasanya berwarna cerah dan mengeluarkan suara. Setelah terbiasa memperhatikan benda-benda bergerak atau cermin, mereka akan ‘naik kelas’ ke tahap berikutnya, yaitu memegang dan menggenggam. Bayi tertarik dengan mainan yang bisa dimanipulasi seperti bola yang bisa dijatuhkan atau rattle, sehingga mereka bisa belajar konsep sebab-akibat.

Ketika bayi mulai duduk, merangkak, berdiri dan berjalan, mereka siap bereksperimen dengan balok-balok besar atau menyusun mainan. Mainan-mainan ini akan membantu anak Anda mengembangkan kemampuan motorik halusnya. Bayi dan batita juga sangat menyukai mandi karena mereka senang bermain dengan air, baik itu mengisi benda dengan air, mengosongkannya atau memercikkan air. Setelah mereka bisa berdiri sendiri, mereka siap beralih ke mainan yang bisa ditarik dan didorong.

18 bulan – 3 tahun

Pada periode ini, sinapsis atau jarak tipis tempat terbentuknya koneksi antar neuron pada anak semakin berkembang  dan mencapai jumlah sekitar 1.000 triliun, dua kali lebih banyak daripada otak orang dewasa. Pertumbuhan motorik anak berkembang sangat cepat, selain itu mereka juga mulai mengembangkan kemampuan bahasa dan respon sosial-emosional.

Anak di usia ini biasanya sangat menyukai kegiatan seperti berlari, lompat, memanjat dan mengendarai sepeda. Jadi, mainan yang bisa dikendarai seperti sepeda roda tiga yang rendah, atau mainan yang bisa dipanjat maupun mainan luar ruangan seperti kotak pasir adalah pilihan tepat untuk mereka. Mainan ini diharapkan mampu mengembangkan kemampuan motorik kasar mereka.

Anda bisa bermain bersama si kecil dengan memberikan mainan seperti puzzle sederhana atau mainan yang bisa dicopot beberapa bagian untuk memancing rasa ingin tahu mereka. Kegiatan ini akan merangsang koordinasi mata dan tangan anak, serta pemahaman lebih dalam soal konsep sebab-akibat. Pilihan lain yang akan disukai anak Anda antara lain adalah instrumen musik, karena mereka senang mendengarkan suara.

3-6 tahun

Inilah periode tercepat perkembangan jaringan lobe frontal. Selain itu, kecepatan mereka memproses pengetahuan, memori dan pemecahan masalah juga meningkat. Ketika mencapai usia 6 tahun, otak anak mencapai 90% otak dewasa.

Saat ini, anak mulai mengembangkan imajinasi dan interaksi dengan anak lain. Pilihan mainan yang baik akan mendukung pertumbuhan kemampuan ini. Telepon mainan, peralatan dapur mainan atau kendaraan mainan adalah pilihan yang baik untuk si buah hati. Anda juga bisa memberikan boneka dengan perlengkapan pakaian untuk anak perempuan Anda, ataupun boneka binatang sehingga anak akan terangsang menciptakan skenario tersendiri seputar mainan tersebut. Selain mengembangkan imajinasi, jenis mainan ini juga dapat melatih kemampuan bahasa dan sosial anak.

Benda-benda kesenian seperti lilin malam, krayon, cat air dan sebagainya juga merupakan jenis mainan kreatif yang sangat disukai anak pada kelompok usia ini.

6-9 tahun

Ketika memasuki bangku sekolah dasar, anak sudah memiliki kemampuan dasar dalam ketangkasan, bahasa dan sosial. Jadi, ini adalah saat yang tepat untuk melatih dan menguasainya. Pada kelompok usia ini, anak senang menantang intelektualitas mereka dengan puzzle atau mainan yang menguji pengetahuan mereka atau melibatkan strategi seperti permainan kartu. Jangan lupakan juga permainan fisik seperti sepatu roda atau beragam mainan bola (sepakbola dan basket).

Banyak pilihan permainan imajinatif yang bisa Anda lakukan bersama si kecil, mulai dari membuat perhiasan, bermain boneka atau melukis bersama. Anda juga bisa melakukan rutinitas istimewa bersama anak dengan mengoleksi sesuatu, misalnya perangko atau  action figure.

9-14 tahun

Proses pematangan lobe frontal anak masih berlanjut pada kelompok usia ini. Kecepatan dan efisiensi pemikiran anak bertambah, begitu juga dengan memori, regulasi emosi, kemampuan merencanakan dan menyelesaikan masalah, serta kemampuan memahami pemikiran mereka sendiri. Permainan bagi anak di kelompok usia ini semakin bersifat simbolis.

Umumnya, aktivitas permainan anak sebelum memasuki masa remaja terjadi dalam sebuah kelompok. Kegiatan olahraga berkelompok cukup populer bagi anak di kelompok usia ini. Mereka juga mulai tertarik dengan mainan elektronik dan memainkannya secara berkelompok atau saling berkompetisi.

Meski semakin tertarik berinteraksi dengan kelompok, pada usia ini anak juga mengembangkan minat pribadi dan menginginkan lebih banyak waktu dan ruang individu. Biasanya, memasuki usia ini, selera pribadi dan kemampuan mereka sudah cukup terlihat, jadi barang-barang hiburan yang dapat memuaskan kesenangan dan kemampuan anak seperti buku atau perlengkapan lukis sangat penting artinya.

Catatan untuk Orangtua

Mainan anak harus diperhatikan secara seksama oleh orangtua demi menjaga keselamatan si buah hati. Pastikan mainan anak Anda selalu dicuci dan tidak memiliki ujung-ujung tajam ataupun pecahan kecil yang bisa tertelan. Sebagai panduan, jika mainan anak Anda dapat masuk di celah tisu toilet, berarti mainan itu terlalu kecil.

Jika anak Anda sudah bisa berjalan atau berlari, pastikan aktivitas bermain mereka tidak membahayakan. Biarkan anak mengejar bola, tapi awasi mereka dengan ketat karena berisiko terjatuh ataupun membentur sesuatu. Jika anak sudah bosan dengan mainan tertentu karena tidak lagi merangsang rasa ingin tahu mereka, anak bisa memainkannya dengan cara yang tidak aman. Misalnya, alih-alih menyusun balok, anak malah melemparkan balok ke berbagai penjuru karena dianggap lebih menyenangkan.

Waspada jika anak kehilangan minat bermain, karena biasanya rasa sakit atau tubuh yang kurang nyaman mengakibatkan mereka malas beraktivitas. Jika hal ini terjadi, ada baiknya menghubungi dokter untuk memastikan kondisi anak Anda.

Sumber:
http://childdevelopmentinfo.com/ages-stages/

http://mom.me/parenting/5309-stages-play-child-development/?p=2

http://www.healthofchildren.com/P/Play.html


admin

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someonePrint this page

Leave a Reply