Menghadapi Si Kecil yang Mulai Berbohong

anak-berbohong
Share Button

Anda sedang mengajak buah hati tercinta berbicara dan tanpa dinyana, si kecil mengatakan sesuatu yang Anda tahu benar tidak benar. Waduh, anak Anda mulai berbohong!

Tapi, jangan terburu-buru memarahi atau menghukum anak Anda. Sebagai orangtua bijak, Anda sebaiknya mencari tahu penyebab anak berbohong agar bisa menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi  anak Anda dan membimbingnya agar tidak lagi berbohong di kemudian hari.

Tentang Berbohong

Leonard Saxe, Ph.D, seorang profesor psikologi di Universitas Brandeis mengatakan bahwa berbohong sudah lama menjadi bagian hidup manusia. Bahkan, manusia tidak dapat melewati hari tanpa menipu seseorang.

Jadi, jika Anda ‘menangkap’ buah hati Anda berbohong, sebenarnya itu merupakan hal manusiawi.

“Semua anak berbohong. Mengajari anak tentang pentingnya kejujuran sejak dini serta mengajari mereka untuk mengatasi sebuah situasi agar mereka tidak perlu berbohong akan membuat anak Anda terbiasa berkata jujur – hampir di semua kesempatan,” papar Victoria Talwar, Ph.D, associate profesor di Departemen Pendidikan dan Konseling Psikologi di Universitas McGill di Montreal, Kanada.

Alasan Anak Berbohong

Mungkin berbohong merupakan tindakan manusiawi yang dilakukan hampir semua orang di muka bumi ini. Tapi, sebenarnya alasan apa yang mendorong seorang anak, balita ataupun yang lebih tua, untuk berbohong?

Setidaknya ada 6 alasan yang menyebabkan anak memilih berbohong daripada berbicara jujur:

1. Takut disalahkan

Bisa jadi, si kecil memiliki pengalaman buruk tentang konsekuensi yang harus dia hadapi ketika melakukan kesalahan. Jika anak pernah dipojokkan dan merasa ‘terhukum’ ketika melakukan kesalahan, bisa jadi dia berbohong untuk menghindar dari hukuman, tanggung jawab atau takut disalahkan.

2. Ingin terlihat lebih hebat

Ketika egonya merasa terusik, anak ingin terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya. Hal ini bisa terjadi pada anak yang kerap dibandingkan dengan anak lain, atau berada di tengah kelompok sosial yang superior. Rasa kurang percaya diri pada anak bisa jadi membuatnya bereaksi untuk mengesankan bahwa dirinya memiliki kemampuan lebih dari sekarang.

3. Merasa tidak punya pilihan

Anak-anak dengan orangtua otoriter atau berada dalam pola asuh yang kontrolnya terlalu kuat selalu berpikir bahwa kesalahan adalah hal yang tidak dapat diampuni. Akibatnya, ketika anak melakukan kesalahan, anak akan dibayangi ketakutan akan risiko kesalahan tersebut.

4. Tidak ingin mengecewakan

Ekspektasi tinggi orangtua terhadap anak, misalnya agar anak mendapat ranking 1 di sekolah atau berprestasi dalam hal apapun, juga bisa mendorong anak berbohong. Jika anak belum mampu mencapai apa yang diharapkan orangtua, bisa jadi mereka akan memilih berbohong daripada mengecewakan ayah dan ibunya.

5. Merasa tidak dihargai

Orangtua bisa jadi, disadari atau tidak, hanya mempedulikan hasil yang dicapai anak, tanpa mempertimbangkan proses atau kerja keras yang sudah mereka lakukan. Sikap orangtua yang seperti ini mungkin saja mendorong anak untuk berbohong karena merasa tidak dihargai.

6. Kurang memiliki ruang

Anak menginginkan keleluasaan aktivitas, misalnya bermain sepakbola atau bermain dengan teman-teman sekolahnya. Namun, kadang orangtua menganggap aktivitas itu hanya membuang waktu dan menyuruh anak untuk melakukan aktivitas lain seperti belajar matematika atau tidur siang. Kondisi ini bisa mendorong anak berbohong agar bisa melakukan aktivitas yang mereka inginkan.

Bagaimana Menyikapi Anak yang Berbohong?

Perlu diketahui, perbedaan usia anak juga mempengaruhi alasan atau penyebab mereka berbohong. Pada usia tertentu, anak bisa jadi bukan berbohong, melainkan berimajinasi. Jadi, respon atau sikap Anda terhadap anak ketika berbohong pun sebaiknya disesuaikan dengan usia mereka.

Yuk pelajari bagaimana sebaiknya menghadapi anak yang berbohong sesuai dengan usia mereka.

Batita (2-4 tahun)

Umumnya, kemampuan bahasa anak di usia ini baru berkembang sehingga mereka tidak mengetahui di mana batas kebenaran. Mereka juga belum dapat membedakan dengan jelas antara realitas, angan-angan, fantasi, lamunan dan ketakutan. Menurut psikiater anak Elizabeth Berger, anak usia 2 tahun bisa dengan lantang mengatakan bahwa adiknya yang masih bayi memakan kue yang baru dibuat sang ibu. Padahal, jelas si adik belum dapat melakukan apa-apa.

Solusinya: Jika anak Anda masih berusia 2 tahun, mereka masih terlalu kecil untuk dihukum karena ‘berbohong’. Gunakan bahasa halus yang tidak menghakimi untuk merespon pernyataan mereka. Misalnya, anak mengatakan “Dia (adik) memakan kuenya”. Anda bisa merespon dengan, “Oya? Jadi yang ada di mulut kakak bukan bekas kue ya?” Selain itu, orangtua juga bisa mengajari anak sejara halus mengenai kejujuran lewat dongeng atau cerita-cerita ringan.

Namun, anak berusia 4 tahun sudah semakin pintar dengan bahasa verbal. Jadi, Anda bisa lebih dalam berbicara tentang konsep kebohongan dan kejujuran. Tentu saja tidak perlu berbicara terlalu lama atau berbelit-belit, yang penting anak memahami bahwa berbohong adalah tindakan tidak terpuji dan bahwa kejujuran adalah hal penting dalam kehidupan. Saat anak ketahuan berbohong, Anda bisa merespon dengan tegas dan serius, seperti “Benar kejadiannya seperti itu?” Tapi, kecuali situasinya serius, Anda tidak perlu menuntut anak untuk menjelaskan kebenarannya. Dengarkan saja penjelasan si kecil dan beri sedikit nasihat agar mereka tidak lagi berbohong. Setelah itu, Anda bisa beralih ke topik lain.

Usia Sekolah (5-8 tahun)

Pada rentang usia ini, anak cenderung lebih sering berbohong untuk menguji sejauh mana mereka bisa lolos jika berbohong. Biasanya, kebohongan yang diutarakan anak berkaitan dengan sekolah, seperti kelas, pekerjaan rumah, teman dan guru. Meski demikian, biasanya kebohongan anak masih mudah untuk diketahui (“Pak guru tidak memberikan PR hari ini”).

Solusinya: Bicaralah secara terbuka dengan anak Anda mengenai kebohongan tersebut. Anda juga bisa terus membacakan cerita atau dongeng tentang nilai-nilai kejujuran. Selain itu, yang terpenting adalah, orangtua harus member contoh yang benar bagi anak. Karena anak pada usia 5-8 senang mengamati, hati-hati dengan ucapan dan tingkah laku Anda saat berada di dekat mereka. Jika Anda meminta asisten rumah tangga mengatakan “Bilang saya tidak ada!” kepada salesman di depan pintu, padahal Anda ada di rumah, hal ini akan mengirimkan pesan yang membingungkan bagi anak. Anak akan berpikir nilai kejujuran tidak berguna karena Anda toh juga bersikap tidak jujur.

Usia Pra-Remaja (9-12 tahun)

Anak di usia ini umumnya ingin membangun identitas diri yang positif. Namun, mereka juga semakin mahir dalam mempertahankan kebohongan sekaligus semakin paham akan konsekuensi tindakan mereka. Anak bisa jadi menyimpan rasa bersalah setelah berbohong.

Solusinya: Anda bisa melakukan pembicaraan yang lebih panjang dan mendalam tentang pentingnya nilai kejujuran. Meski begitu, Anda juga bisa memperkenalkan konsep ‘white-lie’, atau situasi di mana mengatakan sesuatu yang tidak sepenuhnya benar bisa diterima, kepada anak. Fokuskan penjelasan Anda pada pentingnya bersikap sopan dan tidak menyakiti orang lain.

Orangtua pun tetap harus memberikan contoh baik kepada anak. Anda bisa mengajak beberapa anggota keluarga dekat atau tetangga atau teman yang Anda percaya untuk ikut membimbing anak dalam pergaulan sosial. “Anak yang memiliki hubungan baik dengan orangtua mereka, di mana mereka merasa nyaman berkomunikasi dan memberikan informasi, cenderung akan berkata jujur,” ujar Victoria Talwar.

Jika anak masih terus berbohong ketika menginjak usia remaja, ada baiknya agar orangtua waspada. Dr. Michael Lewis, psikolog dari Rutgers Medical School, mengatakan anak yang berbohong di usia remaja berpotensi terus berbohong hingga dewasa. Jika kebohongannya terbilang serius, tidak ada salahnya Anda berkonsultasi dengan psikolog.

Sumber:

http://www.parents.com/kids/development/behavioral/age-by-age-guide-to-lying/

http://ruangpsikologi.com/kesehatan/bohong-bohong-dan-bohong/

http://www.babycenter.com/404_why-does-my-toddler-lie_6829.bc

http://www.anakku.net/6-alasan-mengapa-anak-berbohong.html

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/hadapi.balita.berbohong/001/007/356/306/-/4


admin

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someonePrint this page

Leave a Reply