Kenakalan Remaja: Penyebab dan Pencegahannya

kenakalan-remaja
Share Button

Masih lekat di ingatan betapa mengerikannya berita tentang pembegalan motor di berbagai kota di Indonesia, terutama kawasan Jabodetabek. Para perampas motor, yang biasa disebut begal, tidak ragu untuk melakukan kekerasan, bahkan membunuh, para korbannya.

Sungguh mengejutkan ketika diketahui sebagian besar pelaku pembegalan ternyata masih remaja. Usia rata-rata pelaku adalah 15-20 tahun, masa-masa di mana para remaja seharusnya sedang asyik menimba ilmu dan bersosialisasi di Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi.

Bukan hanya itu, beberapa waktu lalu masyarakat pun dibuat terkejut oleh berita pembunuhan gadis muda yang dilakukan sepasang kekasih. Usut punya usut, korban ternyata merupakan mantan kekasih tersangka pria sekaligus teman dari tersangka wanita.

Menyimak berita memprihatinkan seputar kenakalan dan kejahatan yang dilakukan remaja, para orangtua tentunya semakin mengkhawatirkan pergaulan anak mereka. Apa sebenarnya yag membuat para remaja ini begitu nekat melakukan kenakalan yang menjurus pada kejahatan atau perbuatan kriminal?

Dan, yang lebih penting lagi, bagaimana mencegah buah hati kita terlibat dalam tindak kejahatan tersebut?

Definisi Kenakalan Remaja

Ilmuwan sosiologi Kartini Kartono mengatakan, kenakalan remaja, atau dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.

Kenakalan ini biasanya disalurkan dalam berbagai bentuk, mulai dari kenakalan yang bisa dimaklumi sampai kenakalan yang dapat meresahkan masyarakat, seperti halnya pembegalan maupun geng motor.

Seperti halnya disampaikan Santrock, kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.

Secara umum, kenakalan remaja atau juvenile delinquency merujuk pada tindak kejahatan atau kriminal yang dilakukan oleh remaja atau individu di bawah usia legal menurut hukum yang berlaku, biasanya di bawah usia 21 tahun.

Penyebab Kenakalan Remaja

Masa remaja sering disebut masa paling membingungkan. Beberapa orangtua mengaku anak-anak mereka berubah ketika memasuki usia remaja. Mereka menjadi lebih sering membantah orangtua dan tidak jarang bertengkar akibat hal-hal yang sekilas terlihat sepele.

Memang, perubahan sikap anak ketika beranjak remaja umumnya berkaitan dengan perubahan fisik karena mulai matangnya organ seksual mereka. Perubahan ini seringkali menimbulkan dampak-dampak emosional tertentu dan membuat remaja bingung.

Selain itu, daya pikir para remaja pun mulai mampu berpikir abstrak dan merasa bahwa mereka tahu apa yang terbaik bagi diri mereka. Pemikiran ini tidak jarang membuat remaja sulit diarahkan atau diberi masukan. Padahal, kemampuan remaja untuk berpikir secara mendalam belum berkembang dengan baik sehingga belum dapat berpikir matang mengenai konsekuensi atas perilaku yang mereka lakukan.

Namun, apakah perubahan hormon dan fisik remaja lantas mampu mendorong mereka melakukan tindak kriminal?

Menurut Journal of Criminal Law and Criminology Universitas Northwestern, setidaknya ada enam faktor yang bisa mengakibatkan seorang anak melakukan tindak kenakalan atau kejahatan. Ada baiknya orangtua memahami penyebab-penyebab ini agar mengetahui apa yang harus mereka lakukan demi mencegah si buah hati terlibat dalam tindak kejahatan.

Faktor Fisik

Menurut K.M Banham Bridges dari Universitas Northwestern, kondisi tubuh anak bisa berperan langsung maupun tidak langsung terhadap tindak kenakalan remaja. Kenakalan yang dilakukan remaja bisa jadi merupakan kompensasi atau pelampiasan mereka atas kekurangan fisik yang dialami.

  1. Malnutrisi atau nutrisi anak yang kurang seimbang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan mental pada anak, entah dalam bentuk hiperaktif atau cenderung gugup dan mudah cemas. Hal ini mungkin saja mendorong anak melakukan tindak kenakalan atau kejahatan.
  2. Kekurangan tidur; seperti halnya malnutrisi, kekurangan tidur juga bisa mengakibatkan pikiran anak terganggu. Lebih dari itu, anak pun menjadi lebih mudah marah dan gugup.
  3. Gangguan sensorik maupun gangguan dalam perkembangan anak; anak yang mengalami perkembangan lebih lambat ataupun memiliki kondisi fisik berbeda mungkin saja melakukan tindakan kenakalan untuk membuktikan bahwa mereka tidak kalah dengan teman-teman sebaya mereka yang dianggap ‘normal’.
  4. Gangguan bicara; selain adanya perasaan kompetitif dengan teman-temannya, anak dengan gangguan bicara berisiko menjadi target bulan-bulanan di sekolah ataupun lingkungan sekitar. Anak dengan gangguan bicara bisa menjadi pribadi yang tertutup dan menarik diri dari lingkungan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang penuh dendam dan ingin membalas perlakuan terhadap dirinya.
  5. Cacat anggota tubuh; anak dengan cacat fisik, baik bawaan lahir ataupun karena kecelakaan dan penyakit, mungkin merasa inferior dengan kondisi tubuhnya dan bisa melakukan kenakalan sebagai ‘balasan’ atas apa yang terjadi pada dirinya.
  6. Penyakit syaraf seperti epilepsi dan kelumpuhan pada bayi. Khusus bagi penderita epilepsi, tindak kenakalan bisa jadi akibat adanya dorongan abnormal dalam dirinya, ditambah ketidakmampuan anak untuk menguasai dirinya.
  7. Kecanduan narkotika dan zat adiktif lainnya

Faktor Mental

  1. Gangguan mental; bagi anak dengan gangguan mental,tindak kenakalan dan kejahatan bisa jadi dikarenakan kurangnya pemahaman akan nilai-nilai moral ataupun pemahaman akan perasaan orang lain akibat tindakan mereka.
  2. Kecerdasan superior; anak dengan kecerdasan superior atau di atas rata-rata cenderung tidak perlu melakukan usaha keras untuk memenuhi apa yang diharapkan darinya di lingkungan rumah maupun sekolah. Akibatnya, dia tidak memiliki ruang untuk menyalurkan energi dan bakatnya sehingga mungkin akan melakukan aksi kenakalan untuk menguji dirinya atau mencari petualangan.
  3. Perkembangan mental yang tidak seimbang; anak dengan perkembangan mental yag tidak seimbang cenderung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga melihat tindak kejahatan sebagai ‘jalan keluar’.
  4. Kelainan dalam insting dan emosi anak; kenakalan akibat kelainan insting dan emosi bisa dibedakan menjadi dua, yaitu karena anak memiliki impuls yang sulit dikendalikan atau kurangnya emosi dan simpati terhadap orang lain.
  5. Imajinasi yang obsesif; anak dengan kondisi ini kerap ‘dihantui’ suara atau bayangan orang lain melakukan sesuatu. Jika kondisinya cukup parah, bisa jadi anak akan terdorong melakukan tindakan kenakalan.
  6. Sindrom inferioritas; anak yang merasa inferior terhadap sekelilingnya bisa jadi melakukan tindak kenakalan sebagai pelampiasan karena egonya tidak ingin mengakui bahwa dia ‘kalah’.
  7. Ketidakseimbangan emosi saat beranjak remaja

Faktor Lingkungan Keluarga/Rumah

Faktor lingkungan keluarga umumnya menjadi penyebab tidak langsung tindak kenakalan anak. Faktor dalam keluarga akan mempengaruhi kondisi pikiran dan mental anak dalam perkembangannya. Namun, faktor inilah yang lebih penting diperhatikan sebagai penyebab kenakalan remaja dibandingkan faktor fisik dan mental yang sudah dijelaskan sebelumnya.

  1. Kondisi rumah yang tidak bersih dan terlalu padat; di rumah-rumah tangga yang terlalu padat, anak bisa mendengar pembicaraan atau melihat interaksi antara orang dewasa yang belum bisa mereka pahami. Hal ini mungkin saja mengganggu pemahaman anak dalam tahap perkembangan mereka sehingga mendorong mereka melakukan tindak kriminal.
  2. Kekurangan materi; kekurangan pakaian bagus atau uang saku bagi anak modern bisa menyebabkan mereka merasa minder dari teman-teman sebayanya. Jika nekat, mereka mungkin akan mencuri agar bisa memiliki materi yang sama dengan teman-teman mereka.
  3. Kelebihan materi; sebaliknya, anak yang kelebihan materi tanpat bimbingan yang baik bisa menjadi pribadi egois yang tidak memahami pentingnya nilai materi bagi orang lain. Mereka bisa melakukan kenakalan mulai dari aksi yang tidak serius hingga tindakan kriminal.
  4. Kemiskinan dan pengangguran; anak yang dilahirkan dalam kondisi kemiskinan atau orangtua yang tidak bekerja bisa melakukan tindak kejahatan karena didorong kebutuhan dasar mereka akan makanan, pakaian, tempat berlindung ataupun rasa cemburu mereka terhadap kemewahan yang dimiliki orang lain.
  5. Kondisi broken home di mana salah satu atau kedua orangtua tidak hadir dalam kehidupan anak, entah karena meninggal atau perceraian. Absennya salah satu atau kedua orangtua bisa mengakibatkan anak kekurangan bimbingan dan kasih sayang yang dibutuhkan dalam pertumbuhan mereka.
  6. Kelainan mental dan fisik pada orangtua ataupun orangtua yang kurang bermoral; anak bisa merasa malu karena kondisi orangtua mereka sehingga melakukan tindak kenakalan sebagai pelampiasan, atau anak justru meniru tindakan orangtua yang tidak baik.
  7. Perlakuan tidak menyenangkan dari orangtua, baik kandung, orangtua angkat ataupun wali; kebencian anak terhadap perlakuan buruk orangtua bisa membuat mereka tumbuh tanpa bimbingan dan kasih sayang yang cukup. Anak bisa berpaling ke tindak kenakalan untuk melarikan diri dari kondisi yang tidak menyenangkan di rumah.
  8. Kekurangan perhatian dan kasih sayang orangtua; anak yang merindukan kasih sayang dan perhatia orangtua bisa menjadi pribadi introvert dan tidak peduli dengan orang lain. Dia bahkan bisa tumbuh menjadi anak yang anti sosial dan cenderung kejam atau sebaliknya, mengasihani diri secara berlebihan. Aksi kenakalan adalah pelarian anak dari situasi yang tidak menyenangkan di rumah.
  9. Hubungan yang kurang harmonis dengan saudara; anak yang kerap diganggu dan digoda oleh saudaranya, atau merasa cemburu dengan saudaranya mungkin akan melampiaskan perasaannya dengan melakukan tindak kenakalan dan kejahatan.

Faktor Lingkungan Sekolah

  1. Kurangnya fasilitas rekreasional di sekolah; fasilitas bermain atau beraktivitas seperti gymnasium atau taman bermain merupakan tempat belajar karakter yang tak kalah penting dari pengajaran yang diberikan guru di dalam kelas.
  2. Sistem peraturan sekolah yang tidak fleksibel; peraturan yang terlalu ketat dan kaku bisa berakibat buruk bagi anak, karena mereka menjadi tidak senang dengan lingkungan sekolah dan mencari kesenangan lain dari tindak kenakalan.
  3. Kurangnya penegakkan aturan dalam sekolah
  4. Arahan dan ajaran guru yang kurang memuaskan; rasa tidak puas anak terhadap guru tertentu bisa mengakibatkan anak melakukan kenakalan sebagai pelampiasan.
  5. Teman sekolah yang buruk serta contoh moral yang buruk di lingkungan sekolah; anak-anak membentuk kelompok di sekolah karena berbagai alasan. Namun, apapun alasan mereka membentuk atau bergabung dengan kelompok tertentu, cepat atau lambat perilaku masing-masing anggota akan mempengaruhi anggota lainnya. Jika anak Anda bergabung dengan kelompok yang dipenuhi anak-anak yang cenderung melakukan kenakalan, kemungkinan mereka melakukan tindak kenakalan pun semakin besar.

Faktor Lingkungan Sekitar/Tetangga

  1. Kurangnya fasilitas rekreasional; seperti halnya kekurangan fasilitas rekreasional di sekolah, lingkungan yang tidak memiliki fasilitas bermain atau beraktivitas yang cukup bagi anak akan membuat mereka kekurangan wadah untuk mengekspresika diri sekaligus belajar bersosialisasi.
  2. Lingkungan yang terlalu padat dan kumuh; anak jarang melakukan kenakalan jika sendiri, namun mereka bisa saja melakukannya dengan dukungan kelompok atau geng dalam lingkungan padat atau kumuh yang mereka tinggali.
  3. Reputasi lingkungan yang buruk; jika anak tinggal di area yang dikenal sebagai wilayah buruk atau berbahaya, bisa jadi mereka akan tersugesti dari apa yang mereka dengar atau dari pengaruh teman tertentu dalam lingkungan mereka.
  4. Berdekatan dengan kemewahan dan kekayaan; anak yang lahir di keluarga miskin dan tinggal di dekat kompleks perumahan mewah mungkin memiliki rasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki serta menginginkan kekayaan yang ada di dekatnya. Alhasil, mereka pun melakukan tindak kenakalan atau kejahatan untuk melampiaskan keinginan mereka.
  5. Pengaruh kelompok atau geng; ketika bergabung dengan sebuah kelompok, anak bukan saja terpengaruh sikap dan perilaku anggota lain. Mereka pun kehilangan rasa tanggung jawab serta pengendalian diri karena adanya tekanan dalam kelompok tersebut. Jika kelompok yang diikuti anak adalah kelompok berbahaya, bisa jadi mereka akan mengikuti teman-teman kelompok mereka melakukan tindak kejahatan.
  6. Kurangnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar; anak yang kurang bersosialisasi merasa kekurangan wadah untuk mengekspresikan dirinya serta ingin memenuhi kebutuhannya diterima orang-orang sekitar. Perasaan terpendam ini bisa jadi dilampiaskan anak dalam bentuk kenakalan.
  7. Pengaruh film dan acara televisi; pikiran anak cenderung kurang dewasa untuk membedakan hal yang benar dan salah sehingga salah mengerti apa yang dimaksudkan di dalam film atau acara televisi yang dia tonton. Atau, anak yang sudah mengerti beda antara benar dan salah bisa jadi tetap melakukan kenakalan karena terlalu terpengaruh dengan film dan acara televisi yang mereka tonton.

Faktor Pekerjaan

Anak yang terlibat dengan sebuah pekerjaan untuk mencari uang juga memiliki risiko melakukan tindak kenakalan.

  1. Pekerjaan yang tidak tetap; pekerjaan tidak tetap memberikan penghasilan yang tidak tetap bagi anak, sehingga mereka mungkin tergoda untuk mencuri saat mereka tidak mendapatkan penghasilan.
  2. Ketidakcocokkan dengan pekerjaan; anak yang masih muda dan memiliki pekerjaan yang tidak sesuai dengan mereka bisa memiliki sikap tidak puas, mudah marah ataupun kelelahan akibat pekerjaan mereka. Anak bisa melakukan kenakalan sebagai bentuk kompensasi atau karena pengendalian diri mereka sudah berkurang.
  3. Banyaknya waktu luang dan waktu menganggur; umumnya pekerjaan yang dilakukan remaja tidak membutuhkan waktu yang lama. Anak yang tidak memiliki wadah memadai untuk mengisi waktu luangnya bisa jadi melakukan kenakalan sebagai alternatif mencari kesenangan, atau bergabung dengan geng nakal dan terseret dengan perilaku mereka.

Bagaimana Peran Orangtua dalam Mencegah Kenakalan Remaja?

Jika perilaku anak Anda masih terlihat wajar dan ‘normal’, bukan berarti Anda bisa bernapas lega dan membiarkan saja kondisi tersebut. Cara terbaik mengatasi kenakalan anak adalah dengan mencegahnya. Jadi, peran orangtua dan keluarga sangat besar bagi anak dalam mencegah mereka melakukan kenakalan.

Orangtua sebaiknya mempraktikkan sikap positif terhadap hidup maupun masyarakat. Sejak dini, orangtua harus mengajarkan kepada anak nilai dan norma positif dalam hidup bermasyarakat. Keluarga adalah contoh bagi semua anak sehingga orangtua wajib memberi contoh perilaku dan sikap yang benar agar anak tidak memiliki pandangan keliru seputar nilai dan norma kehidupan.

Komunikasi secara rutin juga memiliki pengaruh besar bagi perkembangan anak. Berkomunikasi di sini tentunya bukan sekedar menanyakan kegiatan anak sehari-hari, melainkan mencari tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan sang anak. Jika komunikasi seperti ini berjalan rutin, orangtua bukan saja memiliki empati dan pemahaman lebih dalam terhadap anak, namun anak pun merasa bisa mengandalkan orangtua dalam situasi apapun sehingga kemungkinan mereka berpaling kepada geng nakal atau melakukan tindak kejahatan lebih kecil.

Melalui komunikasi, orangtua juga dapat mengajarkan kepada anak agar selalu menghormati hukum yang berlaku di tempat mereka tinggal. Jelaskan kepada anak apa konsekuensi yang akan mereka hadapi jika mereka melanggar hukum ataupun nilai yang berlaku di tengah masyarakat.

Bukan hanya komunikasi, orangtua juga sebaiknya mendampingi anak dalam mengenali dan mengolah emosi yang sedang dirasakan. Bahkan misalnya si anak merasakan emosi negatif seperti marah, takut atau sedih, orangtua disarankan untuk membiarkan anak mengenali dan mengelola emosi tersebut, dan bukannya menyuruh anak untuk melupakan emosi itu.

Dorongan untuk menghapus atau menghilangkan emosi negatif yang tengah dirasakan anak bisa menjadi bibit tingkah laku negatif anak. Apalagi, di era informasi seperti saat ini, anak bisa dengan mudah mencari informasi mengenai emosi yang sedang dia rasakan dan bisa saja menuruti saran orang-orang yang tidak jelas.

Karena anak, terutama remaja, begitu terikat dengan teman dan kelompok mereka, Anda harus tahu tentang teman-teman buah hati Anda baik di lingkungan sekolah atau lingkungan tempat tinggal. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui teman-teman anak adalah denga membangun hubungan yang sehat dan akrab dengan anak. Dengan begitu, anak dapat merasa nyaman untuk berbagi soal apapun kepada Anda, termasuk tentang teman-teman yang biasa mereka temui.

 

Sumber:

www.anneahira.com

www.konsultasipsikologi.icbc-indonesia.org

www.belajarpsikologi.com

http://scholarlycommons.law.northwestern.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2038&context=jclc

http://psychology.wikia.com/wiki/Juvenile_delinquency

http://readingcraze.com/index.php/cause-and-solution-of-juvenile-delinquency/


admin

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someonePrint this page

Leave a Reply